- Admin
- 26 Februari 2026
- Banking
Integrasi ORMAF dan Mitigasi Risiko Operasional dalam Ekosistem Perbankan Digital
Dalam lanskap industri keuangan yang terus bertransformasi menuju digitalisasi penuh, kompleksitas ancaman operasional tidak lagi terbatas pada kesalahan manusia (human error) atau kegagalan sistem internal konvensional. Kehadiran ekosistem perbankan digital membawa risiko siber, ketergantungan pada pihak ketiga, serta kerentanan data yang jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, penerapan strategi pengembangan kompetensi pelatihan bagi para pengelola risiko menjadi krusial. Salah satu kerangka kerja yang kini menjadi standar emas adalah Operational Risk Management and Assurance Framework (ORMAF). Integrasi ORMAF yang solid memungkinkan bank tidak hanya mendeteksi risiko, tetapi juga memberikan jaminan (assurance) bahwa kontrol yang ada berfungsi secara efektif dalam melindungi aset dan reputasi institusi.
Penerapan fungsi pelatihan dalam memahami ORMAF adalah investasi strategis untuk membangun benteng pertahanan organisasi. Tanpa pemahaman mendalam dari sisi manajerial, mitigasi risiko hanya akan menjadi dokumen pasif di atas kertas. Keberhasilan bank dalam mengarungi arus digitalisasi sangat bergantung pada seberapa lincah kompetensi karyawan dalam mengidentifikasi titik kritis (critical points) pada setiap transaksi digital. Di Indonesia, urgensi ini didukung oleh regulasi ketat seperti Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11/POJK.03/2022 tentang Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum, yang mewajibkan bank memiliki manajemen risiko teknologi informasi yang memadai.
Membedah Kerangka Kerja ORMAF dalam Konformitas Perbankan
Operational Risk Management and Assurance Framework (ORMAF) bukan sekadar alat pelaporan, melainkan sebuah ekosistem yang mengintegrasikan identifikasi risiko, penilaian, pemantauan, dan pelaporan dengan mekanisme penjaminan (assurance). Pakar manajemen risiko perbankan, Michel Crouhy, menekankan bahwa risiko operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh ketidakcukupan atau kegagalan proses internal, manusia, sistem, atau dari kejadian eksternal. Dalam konteks integrasi ORMAF digital, kerangka ini harus mampu mencakup seluruh siklus hidup produk digital, mulai dari pengembangan aplikasi hingga layanan purna jual.
Regulasi nasional melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 18/17/PBI/2016 juga mempertegas pentingnya manajemen risiko operasional dalam penyelenggaraan pemrosesan transaksi pembayaran. Bank dituntut untuk memiliki ketahanan operasional (operational resilience) yang tinggi. Dengan mengadopsi ORMAF, bank dapat melakukan integrasi antara fungsi audit internal dan manajemen risiko, sehingga tercipta harmonisasi dalam strategi mitigasi risiko operasional bank.
Strategi Mitigasi Risiko Operasional di Era Digital
Transformasi menuju ekosistem perbankan digital mengharuskan bank untuk beralih dari mitigasi risiko yang bersifat reaktif menjadi proaktif. Berikut adalah beberapa elemen kunci dalam strategi tersebut:
- Identifikasi Risiko Berbasis Teknologi: Menggunakan perangkat seperti Risk and Control Self-Assessment (RCSA) yang diintegrasikan dengan data real-time dari sistem inti perbankan (Core Banking System).
- Key Risk Indicators (KRI) Digital: Menentukan indikator kunci seperti frekuensi kegagalan sistem, upaya serangan siber, atau durasi waktu henti (downtime) layanan untuk mendeteksi potensi masalah sebelum menjadi krisis.
- Assurance Terpadu: Memberikan kepastian kepada direksi bahwa kontrol mitigasi seperti enkripsi data, otentikasi dua faktor (Two-Factor Authentication), dan protokol pemulihan bencana (Disaster Recovery Plan) telah diuji secara berkala.
Efektivitas dari langkah-langkah di atas sangat bergantung pada kualitas kompetensi karyawan yang mengoperasikannya. Di sinilah fungsi pelatihan berperan penting untuk memastikan staf di semua lini memahami bahwa setiap klik dalam sistem perbankan membawa risiko yang harus dikelola.
Peran Krusial SDM dalam Ekosistem Risiko Digital
Meskipun bank telah mengadopsi teknologi keamanan tercanggih, faktor manusia tetap menjadi mata rantai terlemah sekaligus terkuat dalam mitigasi risiko operasional bank. Riset global menunjukkan bahwa persentase signifikan dari pembobolan data bermula dari kelalaian staf atau serangan social engineering. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi pelatihan yang berfokus pada kesadaran risiko digital (digital risk awareness) menjadi keharusan.
Seorang Kepala Bagian Pelatihan dan Pengembangan di bank harus mampu mendesain program yang melampaui teknis perbankan tradisional. Mereka harus memastikan bahwa tim operasional memiliki kemampuan analisis data untuk melihat anomali transaksi dan memahami aspek hukum dari perlindungan data pribadi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Sertifikasi profesional menjadi tolok ukur objektif untuk memastikan pemimpin di bagian pengembangan SDM ini memiliki kapabilitas yang sesuai standar nasional.
Baca juga : Sinergi Ormaf Dan Manajemen Risiko Dalam Membangun Pertahanan Tiga Lapis
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apa perbedaan utama antara manajemen risiko operasional tradisional dan digital?
Manajemen risiko tradisional lebih banyak berfokus pada proses fisik dan kesalahan manual. Sementara dalam ekosistem perbankan digital, fokus bergeser pada integritas sistem, keamanan siber, privasi data, dan keandalan pihak ketiga atau vendor teknologi.
2. Mengapa ORMAF dianggap lebih unggul dibandingkan framework lainnya?
Karena ORMAF menggabungkan elemen manajemen risiko dengan fungsi penjaminan (assurance). Ini memastikan bahwa kebijakan risiko tidak hanya dibuat, tetapi secara aktif diverifikasi efektivitasnya dalam melindungi operasional bank.
3. Bagaimana cara meningkatkan kompetensi karyawan dalam menghadapi risiko digital secara cepat?
Melalui pelatihan intensif yang berbasis simulasi kasus nyata (case-based learning), pemanfaatan Learning Management System (LMS) yang dinamis, serta melalui sertifikasi resmi yang diakui oleh negara seperti BNSP.
4. Apakah investasi pada integrasi ORMAF digital sebanding dengan biayanya?
Sangat sebanding. Biaya yang dikeluarkan untuk pemulihan dari satu kegagalan sistem besar atau serangan siber jauh lebih tinggi daripada investasi jangka panjang dalam kerangka kerja risiko dan pelatihan SDM.
Kesimpulan
Integrasi ORMAF digital merupakan langkah fundamental bagi setiap institusi keuangan yang ingin memimpin di ekosistem perbankan digital. Dengan menggabungkan manajemen risiko yang ketat dan jaminan kualitas kontrol, bank dapat meminimalisir dampak dari gangguan operasional yang tidak terduga. Namun, keberhasilan sistem ini tetap bertumpu pada kompetensi karyawan yang handal. Melalui strategi pengembangan kompetensi pelatihan yang tepat sasaran, bank tidak hanya membangun sistem yang tangguh, tetapi juga menciptakan budaya sadar risiko di seluruh level organisasi. Inilah esensi dari tata kelola perbankan modern: sinergi antara teknologi mutakhir dan talenta yang kompeten.
Bangun Ketahanan Operasional Bank Anda Bersama BMG Institute
Menghadapi tantangan risiko digital memerlukan pemimpin yang tidak hanya paham teori, tetapi juga praktis dan strategis. BMG Institute mempersembahkan program pelatihan eksklusif: "Implementing Assurance Framework (ORMAF) & Operational Risk Management".
Jadikan bank Anda institusi yang paling tangguh dan terpercaya. Bergabunglah bersama BMG Institute sekarang dan bekali tim Anda dengan keahlian yang diakui secara profesional. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut : BMG Institute
Tinggalkan Komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai*






Komentar (0)
Tidak ada komentar.