- Admin
- 23 September 2026
- Marketing
Training Digital Marketing untuk Perusahaan
Cara perusahaan menjangkau pelanggan telah berubah. Calon konsumen kini dapat menemukan informasi produk, membandingkan penawaran, berinteraksi dengan merek, hingga melakukan transaksi melalui perangkat digital. Perubahan tersebut terlihat dari data Bank Indonesia yang mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada triwulan II 2026, atau tumbuh 36,88% secara tahunan.
Pada periode yang sama, transaksi melalui internet meningkat 16,88%, sedangkan transaksi melalui aplikasi mobile tumbuh 31,39%. Kondisi ini membuat training digital marketing semakin relevan bagi perusahaan yang ingin membangun kemampuan pemasaran secara terstruktur. Pelatihannya tidak cukup berhenti pada cara membuat konten atau memasang iklan, tetapi perlu membekali tim dengan kemampuan memahami pelanggan, mengolah data, mengukur kinerja, dan mempertimbangkan aspek kepatuhan.
Mengapa Training Digital Marketing Dibutuhkan Perusahaan?
Perusahaan dapat memiliki berbagai kanal digital, mulai dari situs web, media sosial hingga marketplace. Namun, keberadaan kanal tersebut belum menjamin strategi pemasaran berjalan efektif. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan setiap kanal memiliki tujuan yang jelas dan dapat memberikan kontribusi terhadap sasaran bisnis.
Tim pemasaran perlu mengetahui siapa calon pelanggan yang ingin dijangkau, kebutuhan apa yang hendak dijawab, pesan apa yang paling relevan, serta tahapan yang dilalui seseorang sebelum menjadi pelanggan. Karena itu, keberhasilan kampanye tidak seharusnya hanya dilihat dari jumlah pengikut, tayangan, atau likes. Data mengenai kunjungan, prospek, konversi, biaya akuisisi, nilai transaksi, dan pembelian ulang juga dapat menjadi bahan evaluasi.
Di sinilah training digital marketing memiliki fungsi strategis. Pembelajaran membantu peserta melihat pemasaran sebagai rangkaian proses, bukan kumpulan aktivitas yang berdiri sendiri. Konten, iklan, mesin pencari, media sosial, dan data perlu ditempatkan dalam satu strategi yang saling berhubungan.
Kompetensi yang Perlu Dibangun melalui Pelatihan Digital Marketing
Materi pelatihan digital marketing untuk perusahaan sebaiknya dimulai dari pemahaman pasar. Peserta dapat mempelajari cara menentukan target audiens, membuat customer persona, mengenali kebutuhan pelanggan, merumuskan proposisi nilai, dan memilih kanal yang sesuai.
Setelah dasar strategi terbentuk, pembelajaran dapat dilanjutkan pada optimasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO), pemasaran media sosial, strategi konten, iklan digital, pemasaran melalui surat elektronik, dan pengelolaan landing page. Setiap kanal memiliki karakteristik berbeda sehingga penggunaannya perlu dikaitkan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Kemampuan membaca data juga perlu mendapat porsi yang cukup. Sebuah kampanye, misalnya, dapat menghasilkan banyak kunjungan tetapi belum tentu menghasilkan transaksi. Kondisi tersebut perlu dianalisis dengan melihat kualitas lalu lintas, relevansi penawaran, pesan yang digunakan, pengalaman pengguna, dan proses konversinya.
Pendekatan berbasis data membantu tim bergerak dari sekadar menjalankan aktivitas menuju proses evaluasi yang lebih objektif. BMG Institute dapat mengembangkan pembelajaran tersebut melalui Training Digital Marketing untuk Perusahaan dan Pelatihan Digital Marketing, dengan materi yang menghubungkan perencanaan, pelaksanaan, analisis, serta evaluasi pemasaran digital.
Pemasaran Digital Perlu Memperhatikan Perlindungan Konsumen
Strategi pemasaran tidak hanya berkaitan dengan bagaimana sebuah produk terlihat menarik di hadapan calon pelanggan. Informasi yang diberikan dalam proses tersebut juga perlu memperhatikan hak konsumen.
Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik merupakan salah satu regulasi yang relevan. Regulasi tersebut mengatur perdagangan melalui sistem elektronik dan menekankan pentingnya kejelasan informasi serta legalitas dalam transaksi elektronik.
Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang sampai saat ini berstatus berlaku. Dalam konteks pemasaran, pemahaman mengenai perlindungan konsumen membantu perusahaan lebih cermat ketika menyampaikan informasi tentang produk, harga, manfaat, maupun penawaran.
Artinya, tim pemasaran perlu melihat komunikasi digital bukan hanya sebagai sarana menarik perhatian, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan perusahaan dengan konsumen.
Pengelolaan Data Menjadi Bagian dari Strategi Digital
Pemasaran berbasis data menawarkan peluang untuk memahami pelanggan dengan lebih baik. Data dapat digunakan untuk melihat pola interaksi, mengevaluasi kampanye, dan mengembangkan komunikasi yang lebih relevan. Namun, penggunaan data pribadi juga memiliki konsekuensi yang perlu diperhatikan. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menjadi salah satu landasan hukum dalam pengelolaan data pribadi di Indonesia. Bagi perusahaan, ketentuan ini relevan ketika aktivitas pemasaran melibatkan formulir pelanggan, basis data prospek, informasi kontak, atau bentuk data pribadi lainnya.
Tim pemasaran tidak harus menjadi ahli hukum untuk memahami persoalan tersebut. Namun, mereka perlu mengetahui bahwa pengumpulan dan penggunaan data bukan sekadar persoalan teknis. Ada tanggung jawab yang mengikuti cara perusahaan memperoleh, menggunakan, dan mengelola data.
Selain pelindungan data, aktivitas digital juga berkaitan dengan aturan mengenai informasi dan transaksi elektronik. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 merupakan perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan mulai berlaku pada 2 Januari 2024.
Training Digital Marketing Perlu Terhubung dengan Literasi Perpajakan
Pemasaran pada akhirnya berkaitan dengan aktivitas bisnis. Ketika strategi digital berhasil menghasilkan transaksi dan penghasilan, perusahaan juga perlu memperhatikan konsekuensi perpajakan yang relevan.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan mengubah dan menambah sejumlah ketentuan dalam Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Pajak Penghasilan, serta Pajak Pertambahan Nilai. JDIH BPK mencatat bahwa undang-undang tersebut masih berstatus berlaku dan telah mengalami perubahan, antara lain melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023.
Perkembangan perpajakan dalam ekosistem perdagangan elektronik juga perlu diikuti. Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan bahwa Peraturan Menteri Keuangan Nomor 37 Tahun 2025 mengatur penunjukan pihak lain sebagai pemungut Pajak Penghasilan (PPh) serta mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPh yang dipungut atas penghasilan pedagang dalam negeri melalui perdagangan elektronik.
Jadwal pemberlakuan ketentuan tersebut kemudian mengalami penundaan. Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan bahwa pemungutan PPh Pasal 22 berdasarkan ketentuan tersebut ditunda sampai dengan 31 Oktober 2026 dan mulai berlaku pada 1 November 2026. DJP juga menjelaskan bahwa penundaan tersebut tidak mengubah substansi kebijakannya.
Perubahan seperti ini menjadi pengingat bahwa informasi perpajakan perlu diperiksa melalui sumber resmi. Bagi perusahaan, kemampuan mengikuti perkembangan regulasi sama pentingnya dengan kemampuan menjalankan strategi pemasaran.
Dari Aktivitas Pemasaran Menjadi Keputusan Bisnis
Pemasaran digital yang matang tidak berhenti pada pertanyaan tentang konten apa yang harus dibuat. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang ingin dijangkau, kebutuhan apa yang hendak dijawab, kanal mana yang paling relevan, berapa sumber daya yang diperlukan, dan bagaimana hasilnya akan diukur.
Konten dapat membangun perhatian. Mesin pencari membantu calon pelanggan menemukan informasi. Media sosial membuka ruang interaksi. Iklan memperluas jangkauan. Data kemudian membantu perusahaan memahami apakah seluruh aktivitas tersebut benar-benar menghasilkan perubahan yang diharapkan.
Karena itu, pelatihan digital marketing perlu memberikan ruang bagi peserta untuk memahami hubungan antara pemasaran dan fungsi bisnis lainnya. Tim pemasaran dapat bekerja dengan tim penjualan untuk mengevaluasi kualitas prospek, dengan keuangan untuk memahami anggaran, dan dengan manajemen untuk melihat kontribusi strategi digital terhadap tujuan perusahaan.
Pada tahap inilah pelatihan berubah dari sekadar pembelajaran penggunaan platform menjadi proses membangun pola pikir strategis. Teknologi memang menjadi alat, tetapi keputusan bisnis tetap membutuhkan analisis dan pertimbangan yang matang.
FAQs
Apa yang dimaksud dengan training digital marketing?
Training digital marketing merupakan program pembelajaran yang membantu peserta memahami strategi pemasaran melalui kanal digital, termasuk konten, media sosial, mesin pencari, iklan digital, dan analitik.
Mengapa perusahaan membutuhkan pelatihan digital marketing?
Perusahaan membutuhkan pelatihan digital marketing agar tim tidak hanya mampu menggunakan platform digital, tetapi juga dapat menyusun strategi, mengukur hasil, membaca data, dan menyesuaikan kampanye dengan tujuan bisnis.
Apakah pelatihan digital marketing hanya untuk staf pemasaran?
Tidak. Materinya dapat digunakan oleh staf pemasaran, pemilik bisnis, manajemen, tim penjualan, pengembang bisnis, maupun pihak lain yang terlibat dalam aktivitas digital perusahaan.
Mengapa perlindungan data penting dalam pemasaran?
Pemasaran dapat melibatkan data pelanggan atau calon pelanggan. Karena itu, perusahaan perlu memahami ketentuan pelindungan data pribadi agar penggunaan data dilakukan dengan memperhatikan kewajiban yang berlaku.
Apakah kegiatan pemasaran digital berkaitan dengan pajak?
Pemasaran merupakan bagian dari aktivitas bisnis yang dapat menghasilkan transaksi dan penghasilan. Kewajiban pajak kemudian bergantung pada karakter kegiatan usaha dan ketentuan perpajakan yang berlaku.
Bagaimana cara mengukur keberhasilan pemasaran digital?
Indikator perlu disesuaikan dengan tujuan. Perusahaan dapat melihat jangkauan, interaksi, prospek, konversi, biaya akuisisi pelanggan, nilai transaksi, hingga pembelian ulang.
Kesimpulan
Training digital marketing menjadi bagian penting dalam pengembangan kemampuan perusahaan karena pemasaran modern tidak lagi berdiri sendiri. Aktivitas tersebut berhubungan dengan perilaku konsumen, data, teknologi, transaksi, perlindungan konsumen, dan perpajakan. Pertumbuhan transaksi digital yang dicatat Bank Indonesia memperlihatkan bahwa ekosistem digital terus berkembang, sementara regulasi juga terus membentuk tata kelola kegiatan usaha di dalamnya.
Oleh sebab itu, perusahaan membutuhkan tim yang tidak hanya terampil menjalankan kanal digital, tetapi juga mampu memahami tujuan bisnis, membaca data, mengevaluasi hasil, dan mengikuti perkembangan aturan. Melalui Training Digital Marketing untuk Perusahaan dan Pelatihan Digital Marketing, kompetensi tersebut dapat dikembangkan secara lebih terarah sehingga pemasaran digital tidak sekadar menghasilkan aktivitas, tetapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan bisnis yang terukur dan bertanggung jawab.
Baca artikel lainnya sebagai referensi, lalu pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan kami dengan hubungi agar setiap langkah perencanaan yang Anda ambil benar-benar berbasis analisis yang matang dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Tinggalkan Komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai*








Komentar (0)
Tidak ada komentar.